Latest News

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo Aji

Jogja Kost No 13


Paijo Raharjo adalah sebuah nama yang diberi dari Ibu Samirah dan Bapak Budiman 20tahun silam. Tapi sepertinya Paijo tak pernah menyukai nama pemberian dari orang tuanya. Lelaki berpawakan kurus, tinggi, berkulit sawo matang dan berambut hitam cepak ini memang lebih suka dipanggil dengan nama Alex, katanya biar lebih keren
dan gaul, nggak kampungan.
            “Owallah Jo, Jo, kalau kerja itu yang bener. Ojo melototin cewek ae,” tegur Parmin, mengingatkan Paijo yangngalamun mandengin salah satu pelanggan bengkel tempatnya bekerja.
            “Hushh, panggil aku Alex, Min. Alex bukan Paijo, “jawab Paijo sedikit sinis. Sementara Parmin Cuma geleng-geleng kepala saja. “Dasar, bocah gemblung,” ucap Parmin dengan sedikit dongkol.
            Paijo dan Parmin, pemuda dari kampung. Tepatnya dari Wonosegoro, Boyolali. Dan kini mereka sedang mengadu nasib di kota Pelajar, Yogyakarta. Karena baground mereka lulusan SMK, mereka bekerja disebuah bengkel yang ada di kawasan  tak jauh dari Malioboro.
            Sebenarnya sih, niat Paijo ke Yogyakarta tak Cuma ingin mengadu nasib saja. Melainkan juga pengen kuliah, cita-citanya yang ingin jadi Insinyur harus tertunda lantaran orang tua yang tak sanggup membayar biaya kuliah. Nggak nyambung juga sih, SMK kog kuliahnya pengen ke fakultas pertanian, harusnya kan tehnik. Tapi, itula Paijo, pemuda desa dengan gengsi tinggi.
¤          ¤          ¤
            Sore itu, Paijo, Parmin, serta teman-teman kos lainnya sedang duduk-duduk di belakang kost-an. Maklumlah, malam minggu para jomblowan ini nggak punya jadwal apel. Yach, mungkin karena nggak ada yang diapelin. Jadi, para jomblowan ini lebih suka menghabiskan malam minggu mereka di belakang kost.  Maklum, beranda belakang kost lumayan luas. Ada taman bunganya dipojok belakang kost yang lumayan indah dipandang, namun juga sedikit menyeramkan. Ditengah-tengah taman itu ada pohon beringin yang rimbun. Konon katanya, dipohon itu adalah sarang kuntilanak.
            “Hallah, jaman udah modern gini, kalian masih juga percaya ma yang begituan. Hari gini takut ma yang namanya kuntilanak, ndeso loe semua, “ kata Ridwan dengan gaya metropolisnya. Lelaki yang satu ini, memang lelaki yang paling rasionalis diantara teman-teman kost yang lainnya.
            Paijo, Parmin, Ridwan, Dimas, Pras, Joko, dan Rudi, jomblo seven ini masih saja ngobrol tentang keberadaan kuntilanak yang tinggal di pohon beringin yang ada tak jauh dari keberadaan mereka. Kasak-kusuk keberadaan kuntilanak itu memang sudah lama mereka dengar, tapi toh nyatanya mereka belum pernah sekalipun melihat kuntilanak. Eh, ada kuntilanaknya. Mbak Marni, penjaga kost mereka yang super centil, namun sayangnya budi alias budek dikit. Sebenarnya lumayan cantik, tapi karena dandanannya yang selalu menor itu, maka anak-anak kost lebih suka memanggilnya kuntilanak.
            Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba saja Paijo alias Alex, merasa ingin pipis. Sudah nggak tahan, tapi kamar mandinya lumayan jauh.
“Udah Jo, kencing dibawah pohon beringin itu aja. Nggak apa-apa, Marni si kuntilanak kan udah tidur, nggak bakal ngangguin loe,” kata Ridwan pada Paijo.
“Ojo Jo, ojo,” kata Parmin yang melarangnya. Parmin memang yang paling takut dan paling percaya akan keberadaan kuntilanak itu.
“Ojo kenapa, percaya banget loe ma kuntilanak, hari gini nggak ada kuntilanak yow Min,” tambah Pras yang percaya tidak percaya akan keberadaan kuntilanak itu. Gimana bisa percaya, ketemu aja belum pernah. Tapi lumayan merinding juga kalau pada bercerita tentang kuntilanak yang tinggal di pohon beringin yang ada dipojok belakang kost mereka.
“Uwis-uwis, malah do udur dewe-dewe,” ucap Paijo dengan logat jawanya yang begitu kental. Tanpa pikir panjang, Paijo langsung berlari kebawah pohon beringin itu. Sedikit merinding, bulu kuduknya berdiri, tapi apa boleh buat, Paijo sudah nggak tahan.
“Permisi mbakyu, numpang buang air,” kata Paijo yang lalu kencing.
Wuadallahhhh, ternyata oh ternyata, Paijo kencing tepat diatas sesosok wanita bergaun putih yang sedang menyusui anaknya.
“Dasar bocah kenthir, nggak tau aku sedang nyusui anakku opo?” ucap wanita itu sedikit marah. Namun sayang sekali, Paijo tak bsa melihatnya dan tak bisa mendengar apa yang diucapkannya. Hanya saja, Paijo merasa bulu kuduknya berdiri dan semakin merinding saja. Tapi Paijo tak peduli itu. “Akhirnya, lega juga mbokne-mbokne,” ucap Paijo yang kemudian nyelonong pergi, kembali berkumpul dengan teman-temannya.
“Pie Jo, lak yow nggak ada apa-apa kan?” tanya Ridwan pada Paijo.
Paijo Cuma gelang-geleng, “Ora no opo-opo Wan, ning aku kog merinding yo?”
“Aku kan wis ngelekke tho Jo,” tambah Parmin.
“Hallah, perasaanne Paijo saja kui. Rasah gae-gae Jo. Ra no opo-opo,” Ridwan menambahkan dan masih bersikukuh pada keyakinannya. Hari gini nggak ada kuntilanak selain Mbak Marni. Tahayul itu.
¤          ¤          ¤
Semenjak kejadian Paijo kencingdibawah pohon beringin itu, Paijo sering bermimpi buruk. Dalam mimpinya itu, ada seorang wanita muda sedang menyusui bayinya dibawah pohon beringin. Wajah wanita itu mirip sekali dengan Mbak Marni. Tapi wanita itu menangis dan terlihat sangat sedih sekali.
Paijo lalu terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Tatapannya seperti orang linglung.
Parmin, teman sekamar Paijo jadi terbangun. “Koe ngopo Jo? Mimpi buruk lagi?” tanyanya denga penuh perhatian.
“Iya ki Min, wong wedok kui datang lagi ke mimpiku. Nggendong bayi,” cerita Paijo yang bulu kuduknya mulai berdiri.
“Paijo,,,,,” suara wanita memanggil Paijo. Paijo menjadi semakin merinding dan semakin ketakutan. “Kui opo Min?” tanya Paijo yang sedang gemeteran.
“Opo tho Jo, nggak ada apa-apa,” jawab Parmin yang memang tidak melihat apa-apa dan juga tak mendengar apa-apa. Sementara Paijo, semakin keras mendengar suara itu.
Keesokkan harinya, saat sedang sarapan, Paijo bercerita tentang mipinya itu pada Ridwan dan Pras. Sudah seminggu ini Paijo mimpi buruk terus. Wanita berwajah mirip Mbak Marni dan sedang menyusui bayinya itu sudah 7hari ini tak pernah absen datang ke mimpi Paijo. Dan lagi lagi, wanita itu menyusui anaknya dibawah pohon beringin itu.
“Hallah, mimpi itu kan Cuma bunga tidur Jo. Apalagi malah mimpiin Mbak Marni. Jangan-jangan,,,,,,,,,” ucap Ridwan tak diteruskan. Dan itu membuat Paijo dan Pras menjadi penasaran.
“Jangan-jangan opo Wan?” tanya Paijo dengan begitu antusianya.
Ridwan terdiam sejenak. Sementara Pras dan Paijo menunggu jawaban darinya. “Opo Wan, ojo meneng ae,” tambah Paijo yang semakin dibuat Ridwan penasaran.
“Jangan-jangan,,,,” ucap Ridwan yang kembali terputus. Ridwan melirik Pras dan Paijo yang melongo siap-siap mendengar kelanjutan jawabannya. “Jangan-jangan Paijo tresno marang Mbak Marni,”jawab Ridwan dengan tertawa terbahak-bahak dan diikuti dengan tawanya Pras. Sementara Paijo malah merengut lantaran merasa Ridwan menggodanya.
“Aku kie serius Wan, kog koe malah bercanda. Ra lucu,” ucap Paijo dengan sedikit marah-marah.
“Sorry Jo, tapi kamu kie aneh, masak ngimpiin Mbak Marni??” ucap Ridwan yang merasa tak enak karena sudah ikut-ikutan Ridwan menertawakan Paijo. “Opo jangan-jangan Mbak Marni kie memang jelmaan kuntilanak penunggu pohon beringin belakang kost ya??’ tambah Pras yang semakin membuat Paijo ketakutan. Apalagi selama ini Paijo lumayan deket dengan Mbak Marni. Maklum, Paijo kan anak kost yang paling sopan dengan Mbak Marni. Tak heran jika Mbak Marni menyukainya.
Ridwan mulai berpikir dengan apa yang diucapkan Pras. Ada benarnya juga. Tapi tidak! Mbak Marni kan 100% manusia. Kalau dia kuntulanak, kog nongol siang hari. Julukan kuntilanak itu kan lantaran Mbak Marni suka dandan menor. Terus siapa wanita itu, bayinya? Bayi siapa itu??
¤          ¤          ¤
Sore itu, Mbak Marni sedang membersihkan kost-an. Kebetulan Ridwan ada dikost. Hari ini, dia pulang lebih awal dari biasanya. Kebetulan, di kost-an ada satu kamar kosong. Tepatnya kamar nomor 13, letaknya pas disamping kamar Ridwan. Meskipun kamar ini kosong, tapi tiap kali ada yang mau nge-kost, ibu kost selalu bilang sudah penuh. Tak ada yang pernah masuk kekamar no 13 kecuali Mbak Marni untuk membersihkannya atau sesekali ibu kost masuk untuk sesekali melihatnya saja.
Ridwan yang biasanya cuek bebek dengan nomor 13, kini dibuat penasaran oleh perkataan Pras esok tadi. “Apa kamar nomor13 ini, ada hubungannya dengan pohon beringin belakang kost?” tanyanya dalam hati.
Diam-diam Ridwan mengintip Mbak Marni yang sedang membersihkan kamar nomor 13, Ridwan kaget dan semakin penasaran ketika melihat sebuah foto dengan ukuran besar terpapang dikamar itu. Dalam foto itu ada foto Mbak Marni dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Mereka kembar identik sepertinya. Ridwan semakin penasaran saja dibuatnya,
Malam harinya, Ridwan, Pras, Parmin, Paijo dan Joko kumpul bersama. Ridwanlah yang sengaja mengajak mereka berkumpul. Rencananya sih, untuk menyelidiki tentang kebenaran kuntilanak pohon beringin, kamar nomor 13 serta apa hubungannya dengan Mbak Marni?
“Wallah Wan, Wan, tak kira ngajak kumpul mau ngomong apa? Ternyata bahas beginian. Dulu ae, bilangnya tahayul,” ucap Joko dengan nada setengah mengejek.
Ridwan sedikit tersinggung dengan ucapan Joko. Tapi dia sedang tak ingin bertengkar. Penyelidikan ini lebih penting daripada harus menanggapi ucapan Joko.
Kebetulan malam ini malam jum’at kliwon. Terkadang ibu kost suka medatangi kamar nomor 13 pada malam jum’at. Tapi, sudah pukul sebelas, ibu kost tak kunjung juga menengok kamar nomor 13. Ridwan dan kawan-kawan berusaha membuka pintu kamar nomor 13 yang selalu terkunci rapat. Belum juga mereka berhasil membukanya, ibu kost sudah berdiri dibelakang mereka.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya ibu kost dengan nada tinggi. Ibu kost yang biasanya tersenyum ramah, kini berubah seperti monster yang siap menelan mereka. Parmin yang ketakutan, tanpa disadari ngompol dicelana. Merasa bau pesing, teman-temannya menutup hidung. “Koe ngompol yo Min?” tanya Paijo tanpa basa-basi. Tapi Parmin Cuma menunduk dan terdiam.
“Jawab pertanyaan saya, apa yang kalian lakukan disini?” ibu kost kembali mengulang pertanyaannya dan masih dengan nada yang cukup tinggi.
Ridwan yang paling pemberani diantara teman-temannya, sekaligus otak dibalik penyelidikan ini pun menjelaskan duduk perkaranya. Mulai dari gosip kuntilanak pohon beringin, Paijo yang setiap malam didatangi wanita yang mirip Mbak Marni dan menyusui bayinya, serta foto Mbak Marni dengan wanita yang begitu mirip dengannya.
Wajah ibu kost terlihat lesu. Hanya terdiam, lalu membuka pitu kamar nomor 13 dan mengajak Ridwan dan kawan-kawan masuk. “Ayo masuk,” ucapnya dengan nada lemah. Ridwan, Pras, Joko, dan Paijo masuk. Parmin masih ketakutan.
“Kenapa kamu Min, ayo masuk,” ajak Pras.
“Emoh, aku takut Ko,” jawab parmin menolak.
“Takut kenapa? Nggak ono opo-opo Min,” tambah Paijo lalu menarik tangan Parmin masuk. Dan akhirnya Parmin pun ikut masuk.
Dikamar itu, banyak sekali foto-foto Mbak Marni dengan kembarannya. Dan itu semakin membuat Ridwan dan kawan-kawan penasaran saja.
“Itu Marni dan Mirna, kembarannya, “ucap ibu kost sambil memandang sebuah foto Mbak Marni dan kembarannya. Tatapannya getir. “Mirna meninggal karena gantung diri dipohon beringin belakang kost. Dia bunuh diri karena dia hamil diluar nikah dan kekasinya tak mau bertanggung jawab,” lanjut ibu kost yang membuat Ridwan dan kawan-kawan terkejut.
Ibu kost mulai menitikkan air mata. Ada rasa sesak yang datang kedalam hatinya. “Dulu, ini kost untuk perempuan. Tapi setelah ada kejadian itu, saya menggantinya sebagai kost untuk lelaki. Marni dan Mirna adalah mahasiswa yang kost disini. Kematian Mirna karena bunuh diri itu benar-benar membuat saya kecewa. Namun yang lebih mengecewakan saya, ternyata yang menghamili Mirna adalah anak saya,” tambah ibu kost sambil menyeka air mata dipipinya.
Mendengar itu semua, Ridwan jadi merasa bersalah karena telah membuka luka hati ibu kostnya. Tapi, dibalik rasa bersalahnya itu, Ridwan dan kawan-kawannya merasa lega karena misteri kuntilanak pohon beringin terkuak sudah.
¤          ¤          ¤

0 Response to "Jogja Kost No 13"