Latest News

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo Aji

Valentine Terakhir


    “Mawwwaaaarrrrrrrrr, “ panggil Kak Melati dengan nada menjerit. Hmm, suara cemprengnya memang bisa memekakkan telinga. Namun tidak buat aku, aku sudah biasa mendengar teriakannya mulai dari membuka mata sampai aku memejamkan mata kembali. Yah, kebiasaan yang aku dapatkan sekitar dua bulan terakhir ini –lebih tepatnya semenjak Kak Melati habis masa study-nya di Negeri Jiran.
    Aku hanya diam mendengar panggilan Kak Melati. Langsung ku ayunkan kaki ku untuk melangkah menuju suaranya. Ternyata lagi-lagi Kak Melati yang menerima sebuket bunga dari Radit –pacarku.   
    Setiap tiga hari sekali, Radit memang selalu mengirimi
ku sebuket bunga mawar merah –bunga yang paling di benci oleh Kak Melati. Alasannya Cuma satu, katanya mawar merah itu selalu mengingatkan Kak Melati pada mantan pacarnya sewaktu masih belajar di Negeri Jiran. Jadi, setiap berbau mawar merah, Kak Melati pasti akan marah-marah tidak jelas.
    Aku memang belum mengenal siapa mantan pacar Kak Melati itu, tapi aku bisa merasakannya kalau dia adalah sosok yang romantis. Bahkan, aku bisa merasakan dalamnya cinta Kak Melati pada lelaki yang selalu di panggil Prince itu, kegetiran yang Kak Melati pikul karena lelaki itu telah meninggalkan Kak Melati untuk wanita lain. Yang menurutku, wanita itu sangatlah kejam, karena telah merenggut kebahagyaan kakakku.
    Aku mendekat kearah Kak Melati yang mukanya di tekuk berlipat-lipat. Ku sunggingkan senyum termanis ku agar kakakku mau ikut tersenyum padaku. Tapi, Kak Melati justeru langsung memberikan sebuket mawar itu padaku dan tanpa berucap sepatah katapun, Kak Melati langsung menapaki kakinya ke dalam rumah.
    Aku hanya membiarkannya berlalu. Aku tahu, Kak Melati pasti sangat sedih sekali bila teringat pada Prince-nya itu. Bagaimana tidak? Tiga tahun Kak Melati menjalin hubungan dengannya, namun tanpa sebab dan akibat yang jelas, lelaki itu memutuskan Kak Melati dengan sebelah pihak demi wanita lain. Ah, dimana perasaan kedua orang itu? Berbahagya di atas penderitaan orang lain, aku benar-benar bisa merasakan getir yang Kak Melati rasakan. Mungkin, bila aku dalam posisinya Kak Melati, aku tak akan bisa sekuat Kak Melati. Tetap tersenyum membiarkan lelaki itu pergi demi mengejar cinta yang lain. Bahkan, lelaki jahanam itu juga masih sering menghubungi Kak Melati dan teganya bercerita tentang kekasih barunya. Ah, betapa pedihnya luka yang Kak Melati rasakan.
    Aku kembali menatap buket mawar merah pemberian Radit. Aku mendekatkan buket itu ke depan hidungku dan mengendus baunya. Bau tajam bunga mawar serta-merta menyergap hidungku. Buket mawar ini indah sekali. Aku tak henti-hentinya menatap buket mawar ini sampai di dalam kamarku. Dan seperti biasanya, ku letakkan buket mawar ini di samping ranjangku.
    Baby I love you, love you, love you so much.....
    Suara smartphone-ku berdering nyaring di telingaku. Satu pesan masuk dari Radit.
    Cinta, bagaimana mawarnya? Kamu suka?
    Aku tersenyum manis. Lalu membalas pesan tersebut.
    Suka bangett cayank, thankyuuu yaw cayankkkk. Emmmuuuuaacchhh 
    Aku memencet tombol sent dan melayanglah pesan tersebut sampai di handphone Radit.
    Emmuuuuaacchhhhhhh  sampai ketemu di kampus cintaaa.
    Radit kembali membalasnya.
    Setelah aku membaca pesan Radit, Mawar langsung menutup flap smartphone-nya. Lalu bergegas ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dan siap bersolek sebelum berangkat ke kampus.
*    *    *


      Aku melambaikan tangan ketika ku lihat Radit celingukkan mencari-cari di mana posisiku. Setelah di temukan tempat dudukku, Radit lalu bergegas menuju ke arah ku.
          “Cie, yang pangerannya udah datang, “ goda Maurin –sahabatku yang super setia.
          Aku tersenyum malu-malu. Tidak bisa di pungkiri, aku memang senang. Senang mendapatkan pacar sebaik Radit. Dia sangat mencintaiku, aku bisa merasakannya itu. Merasakan desir cintanya yang semakin hari semakin bergemuruh di jiwaku. Cinta yang selalu mampu menghangatkan hatiku yang membeku. Dan cinta yang selalu memberikan aku harapan untuk terus menghirup udara segar meski Tuhan menganugerahiku penyakit Leukimia. Ah, aku benar-benar tidak merasakan penyakit ganas yang bersarang di tubuhku itu. Kehadiran Radit telah mengubah segalanya. Mengubah hidupku yang dulu hanya terbaring lemah di kamarku, kini aku bisa beraktivitas seperti manusia normal lainnya. Yah, walaupun hidupku tetap bergantung dengan bahan-bahan kimia yang setiap detik aku telan.
            Kini Radit telah duduk tepat berada di sampingku.
          “Kayaknya gue ganggu nih, “goda Maurin. “Hmm, gue ke toilet bentar ya?” tambahnya yang kemudian kabur begitu saja.
          Maurin sepertinya memang tidak ingin mengganggu ritual pacaranku dengan Radit. Sahabatku itu memang mengerti benar tentang apa yang aku mau.
       Aku tersenyum memandang Radit, begitu juga sebaliknya. Radit tersenyum memandangku. Senyum yang menentramkan jiwaku, di tambah lagi dengan tatapan elangnya yang selalu menghangatkan hatiku. Aku benar-benar di buat melayang oleh pesona cinta Radit. Lelaki yang duduk di sampingku ini benar-benar mengandung magnet yang selalu bisa meluluh lantahkan benteng hatinku. Menyusup dengan perlahan namun penuh kepastian dan siap menjadi pemilik hati ini untuk selamanya.
         “Oh ya sayang, kamu kapan mau kenalan ma Kak Melati?” tanyaku pada Radit –dengan nada manja tentunya.
         Radit mengerutkan alisnya. Menatapku lekat. Sepertinya dia sedang berfikir, mencari waktu yang tepat untuk bisa bertemu serta berkenalan dengan Kak Melati. Aku sendiri juga sudah tidak sabar untuk memamerkan pangeranku ini kepada kakakku yang tersayang. Pangeran yang sudah lima bulan ini aku kenal. Pangeran yang ku temui disaat aku terbaring lemah di rumah sakit.
            Entah kenapa, tiba-tiba bayangan lima bulan yang lalu terlintas jelas dalam otakku. Bagai film yang tengah di putar di layar lebar.
         Mungkin perkenalanku aneh, lucu atau romantis? Aku tak tahu. Tapi aku ingat betul kala itu aku terdiam dalam ranjang rumah sakit yang sudah seminggu menjadi teman setiaku. Aku menatap nanar cat berwarna putih yang berada di sekelilingku. Aku juga merasa bosan udara yang aku hirup melalui selang oksigen. Aku merindukan suasana kampus, bersama teman-teman dan sibuk dengan kegiatan kampus serta tugas-tugas yang dosen berikan padaku. Aku rindu semua itu, aku sangat merindukannya.
           Sore itu, aku enggan meminum obat yang tengah dokter berikan padaku. Aku tak tahu, kenapa tiba-tiba saja mulutku merasa malas menelan pil yang merupakan penyambung hidupku itu. Pil yang menjadi teman setia ku ketika dokter mulai memvonisku dengan penyakit sialan yang kini melekat erat di tubuhku.
        “Mawar, ayo dong obatnya di minum. Katanya Mawar udah kangen sama kampus?” rayu Mama padaku. Aku tahu, Mama hanya merayuku kala itu. Mama tak akan pernah mengizinkan aku kuliah lagi. Aku harus diam dirumah, beraktivitas di rumah dengan di temani pil-pil yang semakin lama semakin memuakkan itu. Yah, dan pasti Mama akan bilang : “Mama melakukan semua ini demi kesehatanmu, Mawar.” Aku sudah hafal betul dengan kata-kata itu. Kata-kata yang hanya membuatku semakin terpuruk dengan keadaanku ini.
           Aku menatap Mama lekat. Mulutku masih terkatup rapat.
         “Mawar, kamu jangan keras kepala, “ tambah Papa yang sepertinya mulai emosi dengan sikap kekanak-kanakkan ku waktu itu.
           “Ayo Nona, obatnya di minum, “ tambah seorang suster yang ikut-ikutan merayuku.
           Mulutku tetap terkatup rapat seperti di Alteco dan terkunci. Suster itu mulai putus asa, seperti Mama dan Papa. Lalu, suster itu keluar dari ruang rawatku. Tak berapa lama kemudian, suster itu kembali masuk bersama dr. Siregar –dokter yang merawatku- serta Radit, sosok lelaki yang terlihat asing dalam pandanganku.
            Radit tersenyum padaku. “Nona mau minum obat?” tanyanya lembut. Entah kenapa, kepalaku reflek mengangguk-angguk. Anggukan pelan, namun aku jalani ritual minum obat. Entah kenapa, suara lelaki di depanku itu seaka menghipnotis ku dan membuatku luluh tak berdaya.
            “Nona manis, “ ucapnya ramah.
          Sempat ku melirik dr. Siregar yang tersenyum padaku. “Mawar, kenalkan ini Radit. Keponakan dokter yangkuliah di Malaysia, “ ucapnya.
          Kami saling berkenalan.
          “Radit.”
          “Mawar.”
        “Benar-benar nama yang cantik, secantik yang punya, “ godanya yang membuatku tersipu malu. Mungkin pipiku memerah bagai kepiting rebus.
      Radit tersenyum. Membuat bibirku merekah. Dan saat itulah, Radit  mulai sering mengunjungiku. Banyak bercerita padaku dan menanamkan cintanya di hatiku. Mungkin cinta itu kini sedang bersemi dalam hati yang sempat sunyi ini.
         Janji Radit banyak memberikan harapan padaku. Harapan yang kian menjadi nyata seperti apa yang telah di lakukannya padaku. Mawar setiap tiga hari sekali, menjagaku dikampus, dan menelponku setiap waktunya minum obat. Ah, semangatku untuk sembuh kian mendera semenjak kehadiran pangeran yang kini duduk tepat disampingku.
           “Cinta?” panggil Radit yang membuyarkan lamunanku.
            Aku tersentak dan kembali ke alam nyata. Sedikit gelagapan.
           “Cinta sakit?” tanya Radit lembut.
          Aku menggeleng pelan. “Eh ya, sayang kayaknya belum jawab pertanyaanku deh, “ ucapku dan masih dengan nada manja.
              Radit mengerlingkan matanya. “Pertanyaan yang mana ya?”
             Aku mendengus kesal. Memonyongkan bibir yang kata Radit, seksi. “Huh,” keluhku.
           Radit senyam-senyum tak merasa bersalah sama sekali. Pangeranku ini memang hobi sekali menggodaku. Namun jika dia berheti menggodaku, aku pasti akan sangat merindukannya. Ah, entahlah. Entah mengapa pangeran ini begitu memikat hatiku, seperti mawar yang telah mengikat ragaku dalam aroma yang selalu menebar dalam anganku. Dan aku tak tahu, apa jadinya aku jika suatu saat nanti harus tanpa Radit. Ah, tidak! Aku tak akan pernah mampu membayangkannya apalagi sampai itu menjadi yang kenyataan. Radit yang akan aku tinggalkan, bukan aku yang ditinggalkan oleh Radit. Aku sadar dan ingat betul akan vonis yang sempat terucap dari bibir dr. Siregar.
          “Cinta?” lagi-lagi aku melamun dan Radit kembali membawaku kabur dari lamunanku. “Kamu kenapa sih cinta? Kamu sakit?” tambahnya.
          “Selama ini aku kan emang sakit, “ jawabku dengan sewot. Entah mengapa aku terlalu sensitif bila mendengar pertanyaan “Kamu sakit?”. Tak usah di jawab pun semua orang juga tahu kalau aku mengidap leukimia.
            “Cinta, maafin aku, “ ucap Radit dengan penuh sesal.
         Ah, suasana yang tadi romantis kini tiba-tiba berubah menjadi kacau. Sekacau hatiku. Tapi kacau kenapa? Harusnya aku bahagya karena Radit berada di sisiku. Dia tidak pernah absen untuk libur tidak menemaniku kuliah. Radit menepati janjinya. Tapi kenapa tiba-tiba aku merasa kesal dan ingin marah? Ada apa aku ini?
             “Eh ya cinta, hmm gimana kalau valentine nanti, kita dinner bareng Kakak kamu, “ ucap Radit memecah keheningan yang sempat menjalar hebat di antara kami.
               Aku menatap Radit seolah tak percaya. Akhirnya Radit mau berkenalan dengan Kak Melati.
            “Really?” tanyaku penuh keraguan.
             Radit tersenyum dan mengangguk.
             Kesalku telah melayang. Gundah yang sempat merambat hatiku kini telah berganti sumringah yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Aku tak sabar menanti valentine datang. Dan mungkin, ini akan menjadi valentine terindah dalam hidupku. Valentine bersama pangeran dan kakakku yang tersayang.
             “Makasi ya sayang, makin sayang deh ma kamu, “ ucapku sambil memeluk erat Radit.
         Aku sama sekali tak mempedulikan mata-mata yang tertuju padaku dan Radit. Bodo amat, ucapku dalam hati. biarkan saja semua iri padaku dan Radit. Toh kenyataannya aku dan Radit memang pasangan yang super duper romantis. Semua yang melihatnya pasti iri padaku. Jelas! Mana ada cowok yang lebih baik dari Radit? Setia, penyayang, penurut, ngalah dan satu lagi, mengerti wanita –seperti dia yang sangat mengerti aku.
*    *    *

    Cinta,
maafkan bila kataku menusuk dalam relung jiwamu
maafkan bila tingkahku mendesahkan pilu dalam pikirmu
suaraku memecah dinding cinta yang kian mendera
dan salah bila cintaku bertepi di singgasana hatimu
cinta,
jangan pernah menghilang dari pandang mata yang kian merapuh ini
tetaplah hadirkan senyum yang selalu menguatkan aku
dan tetaplah menjadi pelangi dalam rumahku untuk pulang
karena kau adalah tempat tinggalku
bukan sekedar persinggahan,
bukan sekedar tempat berteduh atau berlabuh
melainkan, rumah yang selalu aku tuju
Raditya Hendra Siregar
Aku tersenyum puas membaca kartu yang sengaja Radit selipkan di tasku. Kartu bermotif mawar yang diam-diam Radit selipkan tanpa sepengetahuanku. Aku merasa bahagya, haru serta beruntung. Pangeranku begitu sangat romantis dan mengerti apa yang aku mau. Benar-benar kejutan kecil namun berefek besar dalam perjalananku hari ini.
Secepatnya ku raih smartphone-ku. Aku mengirim sebuah pesan kepada sang pangeran.
Cayang, makasih ya puisinya?
Romantis banget nget ngettttt
Baby I lovee,,
Radit membalas pesanku.
Sama-sama cinta
Cinta suka nggak?
Aku manggut-manggut secaraotomatis. Bibirku merekah.
Suka banget dong cayang. Kan dari sang pangeran 
Aku dan Radit akhirnya ber-SMS ria sampai larut malam. Saling merayu dan bergombal bak anak SMA yang sedang kasmaran. Namun aku cukup menikmatinya.
Cinta, udah malem. Cnta nggak ngantuk??
SMS Radit yang sedikit membuatku manyun.
Di nina boboin yaw cayang??
Balasku meminta.
Radit tak segera membalasnya. Dua menit kemudian Radit menelpon ku. Aku tak langsung mengangkatnya. Tapi aku lebih dulu memasang headset ke telingaku.
“Cinta bobok ya? Aku nyanyiin,” suara Radit terdengar jelas di telinga ku.
“Iya sayang, “ jawabku lemas karena aku sudah mulai mengantuk.
“Emmmuuuaaaccchh.”
“Emuach.”
“Kau mau apa pasti kan ku beri. Kau minta apa, akan ku turti........”
Radit menyanyikan lagu Doaku Untukmu Sayang miliknya Wali. Aku tak tahu Radit menyanyikannya sampai selesai atau tidak. Mataku sudah enggan untuk ku ajak berkompromi.
*    *    *

Selamat pagi, cinta
SMS dari Radit. Bibirku merekah membacanya. Pacarku memang romantis, bisikku dalam hati.
Selamat pagi juga sayang, have a nice day ya sayang 
Ku membalasnya tanpa menunggu lama.
Aku lalu beranjak dari ranjangku, langsung menuju kamar mandi dan siap mengguyur tubuhku dengan air dingin. Menyegarkan. Sesegar hatiku yang sudah di basuh dengan cinta yang Radit suguhkan padaku.
Tak butuh waktu yang lama, kini aku sudah rapi dengan minidressku berwarna merah jambu, senada dengan suasana hatiku saat ini tentunya.
Aku pun sudah siap di meja makan bersama kakakku yang tersayang. Hanya berdua saja. Karena Mama sedang nemenin Papa yang mengurus bisnisnya di Surabaya. Yah, Kak Melati sengaja pulang karena salah satu alasannya untuk menemani aku dan menjaga aku.
“Tumben jam segini udah rapi Dek?” tanya Kak Melati kepadaku. Memandangku dengan tatapan yang sedikit menyelidik.
Memang bukan kebiasaanku banget kalau aku harus bangun pagi dan berbenah di pagi hari. Maklum, aku memang sedikit pemalas. Mungkin beda jauh jika di bandingkan dengan Kakakku yang super rajin ini.
Aku tetap melakukan ritual makanku dan tak menatap wajah Kak Melati sedikitpun. “Emang kenapa kalau jam segini aku udah rapi? Nggak masalah dong Kak?” jawabku dengan ringan.
Kak Melati mengangkat kedua bahunya. “Bukan masalahnya, tapi aneh aja,” ucapnya datar.
Kami tetap bersantap dengan menu breakfast kesukaan kami. Kalau Kak Melati memang lebih suka dengan nasi goreng telur mata ceplok sedikit pedas ala Mbok Min –pembantu kami-, sementara aku lebih suka sarapan pagi dengan segelas susu dan roti tawar selai strawberry.
Aku dan Kak Melati memang saudara, Cuma kami berdua-lah buah hati Mama dan Papa. Tapi, aku dan Kak Melati tidak pernah senada. Mulai dari kesukaan sampai impian kami, semuanya berbeda jauh. Apalagi watak dan sifat kami, bagai langit dan bumi.
Kak Melati terlahir dengan multitalent yang telah di anugerahkan Tuhan untuknya, Kak Melati pandai dan selalu mendapatkan juara. Kak Melati bersifat galak dan dingin, sulit bergaul dan dirinya terlalu kuat sebagai seorang perempuan. Kak Melati mandiri, selalu bisa melakukan semuanya tanpa mengeluh atau meminta bantuan dari orang lain. Dan tak mengherankan jika Mama dan Papa terlalu percaya pada Kak Melati, karena Kak Melati selalu bisa menjaga dirinya dengan baik.
Sementara aku? Aku terlahir dengan otak yang pas-pasan. Satu-satunya anugerah yang Tuhan berikan, aku terlahir lebih cantik dan lebih manis dari Kak Melati. Aku cerewet, namun sulit untuk marah. Temanku bertaburan di mana-mana. Mungkin karena aku tidak bisa melakukan semuanya dengan sendirian. Apalagi karena penyakitku ini, Mama dan Papa selalu khawatir padaku dan bahkan tidak pernah tega membiarkan aku melakukan semuanya sendirian. Aku bukan perempuan mandiri seperti Kak Melati. Aku manja dan aku masih terlalu kekanak-kanakkan.
“Oh ya Kak,  malem valentine besok Radit ngajak dinner bareng. Yah, sekalian kenalan getu Kak, “ ucapku pada Kak Melati.
Kak Melati terdiam sejenak. Menarik nafas panjang. Sempatku meliriknya dan ada guratan wajah sendu yang menghiasinya. Mungkin Kak Melati sedang teringat dengan mantan kekasihnya. Valentine kemarin Kak Melati masih merayakannya dengan sang pujaan hati. waktu itu, Kak Melati bercerita padaku. Kata Kak Melati, Prince-nya memberikan Kak Melati 24 batang cokelat dan 24 buket mawar yang di berikannya setiap jam. Hmm, waktu itu aku sempat ngiri karena posisiku waktu itu masih jomblo dan aku hanya punya teman obat-obattan yang tak pernah meninggalkan aku.
Selain itu, pacar Kak Melati waktu itu juga mengajak Kak Melati dinner bersama keluarga Radit di restoran Subak, salah satu restorant romantis yang berada di Kuala Lumpur. Aku sempat membayangkannya, makan malam bersama keluarga pacar dengan beratapkan langit yang berhiaskan ribuan bintang. Makan Grilled Salmon Steak ditempat yang berlatarkan flora, ah betapa romantisnya makan malam di tengah taman yang indah. Aku benar-benar iri dengan keberuntungan Kak Melati saat itu. Keberuntungan yang kini telah beralih kepadaku.
“Gimana Kak? Kakak mau kan?” tanyaku lagi pada Kak Melati.
Kak Melati mengerlingkan matanya. Mungkin dirinya tengah berfikir.
“Aku janji deh nggak akan mesra-mesraan di depan Kakak. Tapi mau ya Kak?” tambahku dengan rengekkan manja yang biasa aku pergunakanagar permintaanku terkabulkan.
Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya Kak Melati hanya manggut-manggut pelan.
Bibirku merekah. “Beneran Kak?” tanyaku seolah tak percaya.
“Iya adikku sayang. Apa sih yang nggak buat Dedek yang cantik ini, “ jawab Kak Melati dengan godaan kecil yang disuguhkannya kepadaku.
Lagi-lagi aku tersenyum. Aku benar-benar sudah tidak tahan harus menunggu malam valetine. Malam valentine yang tentunya akan menjadi malam valentine terindah dalam hidupku. Malam valentine yang pertama kalinya aku rayakan bersama pacar dan kakakku –dua orang yang sangat berarti dalam diary kehidupanku.
“Makasih ya kakakku yang paling baik sedduuunia, “ ucapku penuh girang.
Aku sama sekali tak bisa melepaskan senyumku. Semua terlalu berarti untukku. Aku merasa beruntung dan menjadi seseorang yang lovable,banyak yang sayang padaku. Entah itu beneran sayang padaku ataukah hanya sekedar kasihan karena usia ku yang divonis tidak bisa bertahan lama. Ah, aku tak ingin mengingatnya lagi. Menyakitkan. Aku tak mau suasana hati yang kurajut dengan indah ini akan berubah menjadi petang yang tak bisa kuterangi lagi. Aku hanya ingin berfikir positif tentang apa yang aku dapatkan saat ini.
Cinta dan perhatian itu memang pantas aku dapatkan. Bukan karena aku sakit, tetapi memang pantas aku dapatkan. Jadi, semua yang aku peroleh saat ini bukan karena aku sakit, melainkan karena aku memang pantas untuk mendapatkannya.
*    *    *

Kebetulan hari ini aku libur kuliah, jadi aku bisa sedikit santai di rumah. Aku duduk di taman belakang, dekat dengan kolam renang yang selama ini tak pernah aku kunjungi.
Aku bermain-main menjelajah dunia maya bersama Galaxy Tab-ku. Berbagai jaringan sosial sudah aku datangi, mulai dari twitter, facebook, sampai kini di yahoo messenger. Di YM, aku banyak ngobrol dengan Maurin –sahabatku.
Mawar_Raditya: Cint, today is beautifull day 
Nona_Maurin: Emangnya kenapa cint? Dilamar Radit apa?
Mawar_Raditya: Hmm, mau tau ja atau mau tau banget?
Nona_Maurin: Nggak mau tahu ajah :D
Mawar_Raditya: 
Nona_maurin: jangan ngambek atuh Neng, jelek atuh. Oke oke, cerita dong!!! Ada apakah gerangan??
Mawar_Raditya: Hmm, akhirnya nich cint, pangeranku mau kenalan ma Kak Melati. Bahkan ya cint, Radit ngajak Kak Melati dinner bareng ntar malam valentine. Bener-bener akan menjadi valentine terindah dalam idup aku, dinner bersama pacar dan kakak aku 
Nona_Maurin: Yang penting nggak dinner ma kakak dan pacar kakak kamu. Heheheheh 
Mawar_Raditya: Eh, maksudnya apa nich?
Nona_Maurin: Nggak kok, bercanda,, piisss 
Mawar_Raditya: andai aja Kak Melati masih ma Prince-nya. Pasti malem valentine ntar bisa double date 
Nona_Maurin: udah dong cint jangan cemberut, mungkin belum jodohnya kali.
Chatting pun tetap berlanjut. Dan pembahasan kami kali ini adalah Kak Melati bersama Prince brengsek yang telah meninggalkan Kak Melati demi wanita lain. Secantik dan sehebat apa sih wanita itu?tega banget merebut kebahagyaan kakak sebaik Kak Melati. Aku benar-benar penasaran dengan mereka, Prince dan wanita barunya.
Mawar_Raditya: Aku tuh bener-bener penasaran dengan mantan pacar Kak Melati dan pacar barunya itu. Huh, pengen tak cincang-cincang cz uda nyakitin Kakak aku.
Nona_Maurin: Haddeeh, sabar buuu 
Mawar_Raditya: Heheheheh 
Semakin siang, chating-an ku dengan Maurin semakin rame. Ah, dunia maya memang selalu membuatku betah berada di dalamnya. Padahal, aku sama Maurin hampir setiap hari ketemu, kami juga sering SMS, BBM ataupun telepone. Tapi semua itu tidak bisa mengalahkan asyiknya dunia maya. Dunia yang kini sedang menjadi trend muda-mudi masa kini.
Mawar_Raditya: Eh cinta, udahan dulu yak.. udah siang nich, aku mau cari kado valentine dulu ma Kak Melati.
Nona_Maurin:  iya dech yang mau valentine-an.
Mawar_Raditya: Maksih sih sih buat pengertiannya ya Nona maniezzz 
Nona_Maurin: 
Mawar_Raditya: bye...
Nona_Maurin: Byeeee juga 
Aku langsung menutup jendela yahoo messenger dan mematikan Galaxy Tab-ku. Arloji yang melingkar di tangan kananku sudah menunjukkan pukul satu siang. Saatnya aku berpetualang mencari kado bersama Kak Melati.
*    *    *

Aku dan Kak Melati berkeliling mall untuk mencari kado yang tepat buat Radit-ku tersayang. Kak Melati juga ikut-ikuttan.
“Kakak yakin nih mau beliin kado buat Radit?” tanyaku pada Kak Melati. Bagiku aneh aja kalau Kak Melati sampai mau memberikan kado buat cowok yang bukan cowoknya. Ngasih kado ulang tahun saja Kak Melati selalu ogah-ogahan apalagi ngasih kado valentine.
Aku menatap Kak Melati lekat dan alisku mengkerut.aneh tapi tidak apa-apalah. Toh Kak Melati ngasih kadonya juga Cuma buat Radit, belinya ma aku dan ngasihnya juga ada aku. Jadi, aku pikir juga tidak masalah.
“Kok natap kakaknya kayak getu Dek?” tanya Kak Melati padaku.
“Yah Kakak aneh aja.”
“Aneh kenapa?”
“Tumben ajah mau ngasih kado buat cowok.”
“Nggak ada salahnya dong kalau Kakak ngasih kado buat cowok yang udah buat adek Kakak bahagya. Yah, buat calon adek ipar getu deh, “ goda Kak Melati yang membuat wajahku memerah.
Seandainya saja apa yang diucapkan Kak Melati bisa menjadikenyataan. Radit bakal jadi adik ipar Kak Melati dan menikah denganku. Andai saja Tuhan memberikan aku usia yang panjang. Dan andai saja aku tidak pernah sakit. Ah, andai saja. Padahal pertemuanku dengan Radit juga karena penyakit sialan yang bersarang di tubuh mungilku ini. harusnya aku berterima kasih pada penyakit ini, karenanya aku bisa bertemu dan bisa sedekat ini dengan Radit. Tapi, hal yang tak dipungkiri kalau penyakit ini juga yang nantinya akan memisahkan aku dengan Radit. Dan aku tak pernah ingin kalau hari itu ada. Aku tak pernah ingin bertemu dengan hari itu. Hari kiamatku. Hari yang bukan hanya akan mengambil nyawa dan hidupku, tapi juga hari yang akan membuat orang-orang di sekelilingku bersedih karena kehilangan aku.
“Kok malah ngalamun sih Dek?” tanya Kak Melati yang membuyarkan lamunan kecilku. Aku tersadar dan kembali pada kehidupan nyata.
“Eh oh eh, ya Kak,” ucapku gelagapan.
“Dedek kenapa? Jadi beli kado nggak?” tanya Kak Melati menyelidik namun masih penuh dengan perhatian kepadaku.
“Jadi dong Kak.”
“Kira-kira Kakak beliin apa buat calon adek ipar Kakak?”
Aku mengerlingkan mataku. Kalau aku udah nemuain kado yang pas buat Radit, tapi kalau Kak Melati?
“Emang Kakak kalau ngasih kado ke prince, ngasih apa?” tanyaku pada Kak Melati.
Oups, aku salah bicara! Jeritku dalam hati.
Mendengar pertanyaanku, wajah Kak Melati langsung berubah. Aku baru menyadarinya kalau aku telah mengingatkan Kak Melati pada hal yang tak pantas aku tanyakan.
Aku merasa menyesal karena telah membuat kakak ku bersedih.
“Kak, maafin Mawar ya?” ucapku pelan dan tak berani menatap wajah Kak Melati yang buram bagai mendung yang siap mengguyur bumi dengan tangisannya.
Kak Melati menatapku dan tersenyum. Aku tahu kalau senyum itu hanya keterpaksaan saja. Aku tahu kalau Kak Melati terluka, terluka tiap kali mengingat masa lalunya. Dan aku, aku telah mengingatkannya pada masa lalu yang seharusnya Kak Melati bakar hingga tak berbekas. Masa lalu indah yang terlalu pahit bila di kenang. Dan masa lalu yang siap menggerogoti kebahagyaan Kak Melati jika masa lalu itu di biarkan tumbuh dan bersemi di relung hati Kak Melati.
*    *    *

Malam yang aku nanti-nantikan pun akhirnya datang juga. Aku sudah siap dengan gaun berwarna merah yang senada dengan highheels-ku. Sedangkan Kak Melati terlihat lebih anggung dengan balutan minidress berwarna putih-nya. Ah, kami malah terlihat seperti Bawang Merah dan Bawang Putih dalam dongeng-dongeng.
Aku dan Kak Melati sudah siap menunggu Radit di taman belakang rumah. Kak Melati yang mempersiapkan semua. Menata taman belakang rumah sebegitu romantisnya dengan lilin-lilin kecil yang mengintari meja makan kami. Tentunya, di sertai juga dengan mawar-mawar yang sedang berkumpul di dekatku. Benar-benar terlihat romantis dan lebih istimewa. Istimewa karena kehadiran Kak Melati tentunya.
Ku melihat Radit yang tengah berjalan ke arahku dan Kak Melati. Dia membawa sebuket bunga mawar yang indah sekali. Ku lambaikan tanganku. Sempat ku melirik wajah Kak Melati yang terlihst shock melihat kehadiran Radit. Ah, mungkin di mata Kak Melati, Radit memang tampan.tak heran kalau Kak Melati sampai tak berkedip menatap pangeranku ini.
Radit sudah berdiri di hadapanku. Radit juga sama tak berkedipnya seperti Kak Melati. Mata mereka saling beradu dalam satu tatapan.
“Hai, “ ucapku yang menyadarkan mereka kembali pada kenyataan.
“Radit, ini Kak Melati dan Kak Melati, ini Radi sang pangeranku,” tambahku memecahkan keheningan.
Mereka saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
“Radit.”
“Melati.”
Aku tersenyum dengan perkenalan indah ini. radit duduk tepat di sampingku dan Kak Melati tepat berada di hadapanku.
“Oh ya cinta, ini mawarnya, “ ucap Radit memberikan sebuket mawar kepadaku.
“Oh ya sayang, aku juga punya kado buat kamu. Happy valentine ya pangeranku, “ ucapku sembari memberikan kado buat Radit.
“Apa ini?” tanyaRadit.
“Buka aja, “ jawabku.
Kak Melati menatap kami dengan tatapan iri. Tatapan yang biasa Kak Melati berikan jika Kak Melati sedang memendam amarah. Tapi kenapa Kak Melati marah? Apa yang salah? Ku rasa semua baik-baik saja. Aku dan Radit juga tidak over dalam bermesraan. Semua masih berada dalam ambang kewajaran. Masih! Aku menyadarinya.
Radit membuka kado dariku.
“Makasih ya cinta,” ucapnya sambil memegang jam tangan baru dari ku.
Aku mengangguk pelan. “Oh ya, Kak Melati kan juga punya kado buat Radit?” tanyaku.
“Lupakan saja Dek, “ ucapnya penuh sinis.
Aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi dengan Kak Melati. Kenapa Kak Melati tiba-tiba berubah drastis. Sinis dan menyebalkan. Apa yang tengah terjadi pada kakakku ini? Apa Kak Melati teringat mantan kekasihnya? Jika pun iya, tak biasanya Kak Melati semarah ini.
Makan malam yang ku bayangkan akan menjadi indah dan lebih bersahabat, kini bagaikan neraka yang membosankan. Yang ku pikir akan menajdi valentine terindah dalam perjalanan hidupku, kini menjadi valentine bisu yang ingin segera ku tinggalkan. Sama sekali tak ada yang menarik. Semua hanya membisu, sebisu gunung yang berdiri tegak menanti kerobohannya.
Kak Melati masih terdiam sinis dengan tatapannya yang mengerikan, begitu juga Radit yang hanya menunduk dan tak bergema. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada dua insan yang ku sayangi ini? aku semakin tak mengerti dengan jalannya keadaan.
“Aku ke toilet dulu, “ alasanku untuk sedikit menjauh dari pesta kecil ini.
Aku beranjak pergi ke dalam rumah. Membiarkan pangeranku dan kakak ku untuk mengenal lebih jauh. Mungkin jika tidak ada aku, mereka akan semakin akrab karena tidak sungkan dengan kehadiranku.
Tak berapa lama aku telah selesai dari toilet. Ku lihat mereka tengah berbicara. Dan tak ada salahnya jika aku sedikit menguping pembicaraan mereka.
“Ela, maafin aku, “ ucap Radit yang terdengar pelan.
Kak Melati hanya tersenyum sinis. “Aku sama sekali nggak nyangka Dit, ternyata kamu ninggalin aku buat adikku,” ucap Kak Melati dengan nada getir.
Jantungku terasa sesak mendengar penuturan Kak Melati. Jadi??? Radit adalah prince yang telah meninggalkan Kak Melati? Oh, tidak....
“Aku nggak tahu kalau Mawar itu adik kamu Ela.”
“Apa yang kamu tahu dari aku? Keluargaku? Apa selama kita berpacaran, kamu pernah bertanya tentang keluarga aku?”
Radit terlihat terdiam. Ada tatapan bersalah yang sedang menaunginya.
“Bukan masalah jika kamu ninggalin aku buat Mawar, tapi satu masalah jika kamu akan ninggalin Mawar demi wanita lain,” ucap Kak Melati yang berusaha tegar. Terlihat jelas kalau Kak Melati menahan butiran bening dalm sudut matanya.
“Jika aku sampai meninggalkan Mawar, itu juga demi kamu La. Tapi kamu tahu, Mawar sakit dan aku tak akan pernah bisa melihatnya terbaring lemah, “ tandas Radit yang ucapannya sangat menusuk jantungku.
Apa selama ini Radit tak mencintaiku? Apa selama ini hanya rasa kasihan karena sakitku?
Aku sama sekali tak bisa berpikir jernih. Semua menjadi gelap dalam hadapanku. Dan aku tak mampu lagi melihat dan mendengar apa yang ada di sekelilingku.
*    *    *

Ah, aku sudah tak lagi bisa memeluk Radit dan Kak Melati lagi. Aku juga tak sempat mengucapkan kata maaf kepada mereka berdua. Kehadiranku telah memisahkan cinta suci mereka. Kini, mereka bebas bersama tanpa memikirkan apa yang ada di hatiku.
Aku tersenyum getir melihat ragaku yang terbungkus kain kafan tak berdaya itu. Terlihat guratan kesedihan di wajah sendu Radit. Sementara Kak Melati masih histeris dengan kenyataan yang ada di hadapannya, sama seperti Mama yang berulang pingsan melepas kepergianku. Sedangkan Papa, Papa selalu berusaha untu bisa tegar meskipun hatinya kini harus berkeping tak berbentuk karena harus melepaskan kepergianku.
Aku juga sempat melihat Maurin dan kawan-kawan kampus ku yang menangis tersedu mengantarkan aku pulang keperistirahatan terakhirku.
Aku tersenyum getir. Ada nada sedih yang mengalun dalam hatiku. Namun segurat lantunan kebahagyaan tengah bermain hebat dalm relung hatiku, bahagya karena aku berharap kalau kepergianku adalah penyatu cinta Radit dan Kak Melati yang sempat terputus oleh ku.

5 Responses to "Valentine Terakhir"

  1. ada 3 point saiii.... 1. "Setelah aku membaca pesan Radit, Mawar langsung menutup flap smartphone-nya. Lalu bergegas ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dan siap bersolek sebelum berangkat ke kampus." * * * ini udah tahu sendiri to mana yang keliru
    2."Selain itu, pacar Kak Melati waktu itu juga mengajak Kak Melati dinner bersama keluarga Radit di restoran Subak, salah satu restorant romantis yang berada di Kuala Lumpur. " => salah tulis x ya,, kan mawar belom tahu kalo prince melati si raditt....
    3. tadi aku teba duluan ternyata bener tebakanku,,,jadi inti ceritane udah ketebak di awal.... masukan : usahakan buat ceritanya yang kisah e gag gamoang di tebak pembaca apalagi waktu bacanya di awal2 cerita,,atau buat yang sekiranya pembaca yakin ma tebakannya benar tapi ternyatatebakan pembaca gitu...> terusss lebih teliti lagi jenk,, tapi bagus kok dalam pengungkapan bahasa banyak variasinya,, hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ok jeng, matur thankyuu yaachhh :)
      kapan-kapan, masih mau kan mampir buat ngasih komen2 agy
      hihihihihhh :)

      Delete
    2. ihirrrr, poin dua dan tiga pas banget aku juga mau bilang...
      tapi walau ketebak di awal tapi tetep aja penasaran pengen baca sampai akhir, hihi..nice mbak.

      Apalagi ini sad ending, lagi pengen yang sad-sadan nih

      enak ya tampilan blognya, enggak berat dibuka friendly bingitsss

      Delete
  2. okelah saiii... selamat berkarya,,, heheheh :)

    ReplyDelete
  3. Hmm...percakapan sms antara Radit dan Mawar kok alay ya? Hehe. Dari awal aku malah udah nebak ceritanya gimana, sis. Banyak sekali pemborosan kata yang disisipi imbuhan dan kata depan yang sebenernya ga terlalu diperlukan. Alurnya blom dinamis, penulisannya masih menggunakan kata-kata monoton. Emosinya blm terlalu dapet. Segitu aja dulu ya sistaaa. Moga bs terus semangat bikin ceritanya yaaa...

    ReplyDelete