Latest News

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo Aji

[DIARY SANG ZOMBIGARET] Sebut Aku Zombie


Namaku Zombie. Wanita berusia 25 tahun yang tak pernah bisa terlepas dari yang namanya rokok. Wanita yang bertubuh kurus, kulit keriput dan jauh dari kata sukses. Ya, bila kau ingin tahu tentangku, kau bisa membayangkan zombie yang sering tampil di film-film horor yang ada di layar kaca. Seram! Tapi itulah kenyataannya.
            “Nara, aku mohon, hentikan kebiasaan burukmu ini!” celoteh Farhat memohon padaku. Nara, itulah nama asliku. Tapi sekarang aku
lebih suka dengan nama Zombie, sesuai dengan keadaanku.
            Aku mendengus kesal dan tetap menghisap si garet. Aku sama sekali tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh calon suamiku itu.
            “Nara, sebentar lagi kita akan menikah, lalu punya anak. Jadi aku mohon, hentikan kebiasaan burukmu ini!” ulang Farhat kembali memohon.
            Aku masih saja diam dan acuh tak acuh. Bagiku, ini bukan kebiasaan buruk. Tapi, ini adalah hal yang sangat menyenangkan. Rokok bisa membuatku melupakan segala macam problematika hidup yang datang silih berganti. Rokok mampu menenagkan jiwaku. Dan rokok selalu setia menemaniku dalam keadaan susah dan senang. Dan aku berterima kasih pada Reyhan—mantan kekasihku—yang telah memperkenalkanku pada rokok.
            “Kau tak pernah mengenal rokok, Farhat. Jadi, mudah bagimu untuk bicara seperti itu,” ucapku tiba-tiba setelah rokokku habis. Kemudian tanganku berusaha meraih rokok yang ada di meja untuk ku hisap lagi. Tapi secepat kilat tangan Farhat menghentikannya. Kami berpandangan.
            “Aku tak akan pernah mengenalnya, Nara. Rokok itu jahat, rokok hanya membuat kerugian. Karena rokok pula, ayahku mati muda karena kanker paru-paru. Dan sekarang kamu, lihat tubuhmu! Jangan sampai kau terkena kanker paru-paru seperti ayahku,” ucap Farhat menyeramahiku.
            Aku mehempaskan tangan Farhat dengan kasar. Aku tetap memaksa mengambil rokok, menyulutkan korek api, membakar rokok kesayanganku dan kemudian menghisapnya dan menikmatinya.
**
            “Apa? Kanker paru-paru?” ucapku kaget ketika dokter Herman menjawab pertanyaanku.
            Aku menunduk.
            Aku tak tahu lagi dengan apa yang harus ku perbuat. Dua bulan lagi aku dan Farhat akan menikah, semua sudah dipersiapkan, mulai dari undangan, gedung, baju pengantin sampai souvenir untuk para tamu nantinya. Tapi, bagaimana dengan kanker paru-paru yang kini menggerogoti tubuhku? Apa aku bisa sembuh dalam waktu dua bulan? Dan apa aku bisa menjauhi rokok sampai aku tak lagi menghisapnya?
            Pikiranku kalut. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain... Meraih rokok dan kemudian menghisapnya, menikmatinya hingga aku merasa tak lagi punya beban dalam hidupku. Aku juga tak peduli dengan tubuhku yang sudah seperti zombie dan tak juga peduli dengan penyakitku.
**
Dua bulan berlalu...
            Hari ini hari pernikahanku dengan Farhat. Seharusnya aku memakai kebaya putih dengan rambut disanggul dan berhiaskan bunga, dan melayani para tamu undangan. Ah, seharusnya itu yang terjadi. Tapi tidak pada kenyataannya. Aku justeru terbaring lemah di rumah sakit, ditemani selang infus yang melilit di tanganku.
            Aku melihat Mama yang menangis terisak di samping ranjang tempatku terbaring, begitu juga dengan Mamanya Farhat, Papa dan juga Farhat.
            Aku mencoba tersenyum, walau jujur saja, untuk bernafas pun aku membutuhkan perjuangan.
            Ah, aku tahu ini semua karena rokok. Tapi, apakah aku harus membencinya? Atau menyesal karena telah bersekutu dengan rokok. Tidak. Aku sama sekali tak menyesal telah berkenalan dan bersekutu dengan rokok. Dan jika aku harus mati muda sebelum menikah, aku menganggap semua ini adalah takdir.
**
            Tuhan benar-benar telah memanggilku lewat kanker paru-paru. Ya, aku telah tiada sebelum aku menikah dengan Farhat. Air mataku jatuh bercucuran. Apalalagi melihat Mama yang  tak henti-hentinya meneteskan air mata dan mengajak jasadku berbicara seolah-olah aku masih hidup.
            Mungkin, beberapa hari yang lalu akutak pernah kecewa karena telah bersekutu dengan rokok. Tapi hari ini, hatiku sungguh terluka. Seandainya saja aku tak pernah mengenal rokok, memanfaatkan waktuku untuk melakukan hal yang bisa membuat Mama dan Papa bahagia.
            Ah, itu hanya angan belaka. Kenyataannya, kini aku telah berbeda kehidupan dengan Mama dan Papa.

*Senikmat-nikmatnya rokok, rorok tetaplah racun yang tak pernah menguntungkan.


Cerpen ini diikutsertakan lomba DIARY SANG ZOMBIGARET http://lomenulis.com/post/82686705916/lomba-menulis-di-blog-diary-sang-zombigaret-juara-1

0 Response to "[DIARY SANG ZOMBIGARET] Sebut Aku Zombie"