Latest News

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo Aji

KARENA CINTA TAK PERNAH BUTUH ALASAN

“Lo cinta sama gue, hahaha,” gue tertawa terbahak-bahak. Mana mungkin seorang Aldio jatuh cinta sama cewek manja macam gue. Gue berusaha mengatur nafas, menghentikan tawa yang tak Aldio suka. “Emangnya, apa yang ngebuat lo jatuh cinta sama gue?” gue bertanya, penasaran.
          Aldio menatap tajam gue, dan tatapannya 
itu justeru semakin membuat gue tertawa. Gue masih belum bisa percaya kalau Aldio ngatain cinta ke gue. Secara, Aldio itu udah kayak kakak gue, ke mana-mana nganterin gue kayak sopir gue, kalau gue ada masalah, gue ceritanya ke dia. Tapi gue sama sekali nggak pernah nyangka kalau di hatinya tuh tumbuh benih-benih cinta buat gue. Mana mungkin seorang kakak jatuh cinta sama adiknya?

          “Mungkin seseorang butuh seribu alasan untuk membenci seseorang, namun seseorang tak butuh alasan untuk mencintai seseorang,” Aldio sok puitis. “Kalau gue balik tanya, apa yang ngebuat lo setia sama Rey? Padahal sudah berulang dia nyelingkuhin lo,” tawa gue langsung menghilang mendengar nama Rey dan perselingkuhan.
          “Hanya cinta yang membuat gue bertahan,” ucap gue dengan getir.  Jujur saja, gue nggak pernah ngerti kenapa gue nggak pernah bisa berlari dari Rey. Gue nggak pernah paham dengan hati gue, gue yang bodoh atau memang Rey yang pinter merayu gue hingga hati gue mudah luluh. Toh kalau dilihat-lihat, tampang Rey biasa saja, sama sekali tak ada yang hebat dalam diri Rey.
          “Kenapa lo jatuh cinta sama dia? Padahal apa hebatnya dia?”
          Gue terdiam dan menggeleng pelan. Lalu menunduk.
          “Lo nggak tahu kan, kenapa lo jatuh cinta sama playboy macam Rey. Sama! Gue juga nggak tahu kenapa gue harus jatuh cinta sama cewek manja macam lo!”
          Gue masih terdiam dan menunduk. Cinta memang tak pernah membutuhkan alasan. Bukan hal yang konyol seandainya Aldio memang benar-benar jatuh cinta sama gue. Gue cewek, dan Aldio cowok. Tak ada yang salah bukan, jika dewi amor menancapkan panahnya di hati kami.
          “Jujur Sya, gue selama ini cemburu ngelihat lo pacaran sama Rey. Tapi gue bisa apa kalau lo bahagia sama dia...” Aldio mulai mencurahkan isi hatinya. “Gue berni jujur, karena gue udah nggak tahan ngelihat lo selalu disakiti sama tuh cowok. Lo terlalu baik buat dia. Lo nggak pantas terus-terusan bertahan sama dia. Buka mata lo, Sya. Ada gue yang selalu ada buat lo.”
          Aldio memang benar, dia selalu ada buat gue. Tapi yang namanya cinta itu nggak pernah bisa dipaksa. Mencintai Rey lebih mudah ketimbang gue move on dari dia. Dan entah mengapa, gue yakin banget kalau kesetiaan gue akan berujung kesetiaan juga di hati Rey.
          Gue beranjak dari duduk gue tanpa sepatah katapun. Aldio hanya membiarkan gue menjauh darinya. Entah mengapa, ada bagian yang sakit yang tiba-tiba menjalar dalam dalam otak gue.
          Gue nggak bisa ngebiarin Aldio mencintai gue. Gue nggak bisa!
***
          Ada yang berbeda semenjak Aldio mengungkapkan perasaannya ke gue. Gue dan Aldio justeru semakin merenggang. Ada sekat yang tiba-tiba hadir dalam hubungan kami.
          Gue kerap sekali sendiri. Sementara Aldio? Entah memang sengaja ingin membuat gue cemburu atau bagaimana, Aldio kerap sekali menampakkan kedekatannya dengan cewek-cewek lainnya. Bukan hanya satu, tapi beberapa. Mungkin dia akan mengikuti jejak Rey, playboy.
          “Sialan banget tuh cowok, ganteng juga kagak, mau berlagak playboy,” gerutu Risna saat usai kuliah.
          Gue mengerutkan kening. Yang gue tahu, beberapa hari ini Risna dekat dengan Aldio.
          “Maksud lo, Aldio?” gue bertanya.
          “Siapa lagi?” Risna nampak kesal. “Baru kemaren bilang cinta ke gue, eh tadi pagi si Amel udah berproklamasi kalau tadi pagi Aldio ngejemput dia dan bilang cinta ke dia,” Risna bercerita.
          Oh ya?
          Gue hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
          Baru saja gue dan Risna akan keluar kelas, sosok Aldio sudah bergandengan dengan Rizki.
          “Tuh liat, Sya, udah ganti lagi, kan?” tunjuk Risna dengan wajah kesalnya.
          Gue hanya terdiam. Aldio kayak gitu, apa gara-gara gue?
***
          “Gue mau bicara sama lo!” ucap gue ke Aldio. Gue memang sengaja menemuinya ke lapangan basket. Menghentikan permainan basketnya bersama teman-temannya.
          “Maksud lo apa sih, Di? Mainin cewek-cewek. Emangnya mereka punya salah apa ke lo?” gue nggak tahu kenapa gue marah-marah. Entah karena gue simpati sesama kaum gue atau sebenernya gue... cemburu.
          Aldio tersenyum sinis, seolah mengejek gue. “Bukannya lo lebih suka cowok yang suka mainin cewek?”
          “Maksud lo ngomong apa?”
          “Lo lebih suka, kan, cowok playboy ketimbang cowok setia?”
          Ada api yang tiba-tiba membakar otak gue. Tanpa pikir panjang, gue angsung menampar Aldio di hadapan banyak orang. Gue tahu, pasti Aldio malu banget.
          Aldio menatap tajam gue. Mencengkeram bahu gue, hingga gue merasa kesakitan. Mata kami saling beradu. Sedtik, gue ngerasa bibir gue hangat. Oh my GOD, Aldio mencium gue di depan banyak orang? Di depan Risna, Amel, Rizki dan cewek-cewek yang tengah termakan rayuannya?

          Mungkin wajah gue sudah seperti kepiting rebus. Gue menatap Aldio tajam, gue kecewa. Tanpa sepatah katapun, gue langsung berlari meninggalkan lapangan basket.

1 Response to "KARENA CINTA TAK PERNAH BUTUH ALASAN"