Latest News

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo Aji

Surat Hari 5 : Ketika Kita Berani Mencurahkan Hati

Surat Hari 5 : Ketika Kita Berani Mencurahkan Hati




Selamat malam kamu, apa kabarmu? Hmm, masih setiakah kamu menemani malam-malamku?

Hmm, tak terasa yaaa, sudah berhari-hari bahkan berganti minggu, kita saling mengenal dalam dunia maya. Ya, meskipun tetap sama, dalam dunia nyata kita seperti sepasang yang tak saling kenal. Tak mengapa, mungkin karena malu.

Oh yaaa, akhirnya kamu mau jujur juga yaaa? Kamu sudah punya pacar, hehehe. Eh, mau dong aku dikenalin sama pacar kamu. Kayak apa dia? Cantik? Manis? Pinter? Atau bagaimana? Hmm, beruntung yaaa dia bisa dapetin cinta kamu, iya kamu. Dan menurutku kamu adalah sosok lelaki yang baik sebagai seorang pacar.

Tapi... Jujur saja aku jengkel padamu. Kenapa kamu selalu menggodaku. Kamu selalu bilang aku pacaranya si A, si, B, si C dan bla-bla. Apa karena aku jomblo, lantas kamu bisa mengejekku sesuka hati?

Kamu tahu, di antara mereka-mereka sama sekali tak ada yang bisa mengikat hatiku. Mereka biasa saja, Cuma bisa bilang cinta tapi buktinya kosong. Dan apa kamu juga tahu, kemarin mereka bilang kalau aku ini wanita racun dunia yang membuat sebuah persahabatan menjadi goyah. Dan kamu tahu, sungguh menyakitkan perkataan itu. Bukan salahku kan kalau mereka jatuh cinta padaku? Toh aku juga tak menyuruh mereka untuk mencintaiku.

Selain itu, mereka tak lebih ganteng dari mantan kekasihku yang kemaren. Tak lebih pintar juga dari mantan kekasihku sewaktu SMA. Mereka biasa saja, bukan tipeku. Dan satu yang pasti, aku tak suka lelaki perokok dan tak bisa menghargai wanita. Iyaaa, seperti mereka yang selalu menggoda kupu-kupu malam. Aku benci itu.

“Bagaimana kalau kita pura-pura pacaran?” Hingga sebuah tawaran itu kamu ungkapkan padaku. “Biar mereka tak mengganggumu lagi. Gimna? Aku antar jemput, aku ajak makan dech.”

Kamu tahu, aku Cuma melotot membaca SMSmu itu. Kamu kan sudah punya pacar? Kamu kan cowok setia. Dan kamu tahu, yang membuatku lebih kaget lagi, KARENA KAMU SUDAH PUNYA PACAR JADI KITA TIDAK MUNGKIN PACARAN BENERAN.

Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Ternyata kamu lucu juga. Dan entahlah, akan aku pikirkan kembali tawaranmu itu.

Dan sekarang, lebih baik kita berganti topik pembicaraan. Sekarang, lebih baik membahas kamu dengan pacar yang selalu kamu banggakan itu. Pacar yang katamu nurut sekali denganmu dan pengertian terhadapmu. Bahkan demi dia kamu rela melakukan segalanya.

Jujur, sepertinya kamu juga termasuk lelaki yang BUKAN tipeku. Kamu tahu kenapa? Aku bukan wanita penurut dan aku tidak suka, kamu sepertinya terlalu pengengkang dan terlalu lebay. Hmm, dan tak bisa kubayangkan, bagaimana dengan hidupku jika aku mempunyai pacar sepertimu. Secara, aku ini suka berpetualang dan suka berteman dengan siapapun. Sementara kamu? Kamu terlalu pemilih...

Ya ya yaaa, mungkin pacarmu beruntung mendapatkanmu dan mungkin kamu juga beruntung mendapatkannya. Semoga kalian berjodoh dan jangan lupa kamu kirimkan undangan kepadaku.

Eh, sepertinya sudah larut. Kututup ceritaku hari ini. Semoga esok, aku bisa kembali menyambung cerita. Selamat berbahagia bersama pacarmu yaaa, dan jangan lupa, kenalin aku padanya.

See You...

Salam hangat,

Witri Prasetyo Aji

4 Responses to "Surat Hari 5 : Ketika Kita Berani Mencurahkan Hati"

  1. Ngahahah, modusnya bisa ajaaa, dasar lakiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi... wanita jangan gampang baper... laki banyak modus :)

      Delete
  2. namanya juga laki.. ayo kita cari lagii yang laiiinnnn

    ReplyDelete