Latest News

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo Aji

BULLY, BUDAYA ATAU TRADISI?

BULLY, BUDAYA ATAU TRADISI?


BULLY, BUDAYA ATAU TRADISI? Ngomongin soal bully, sebenarnya ada luka lama yang enggan saya ceritakan. Tapi teringat pidato dari bapak kepsek saat upacara hari Senin, sejenak saya mengingat cerita itu. Bully seolah menjadi tradisi di sekolah-sekolah, bahkan sekarang media sosialpun seolah berperan serta soal bully. Bully tidak hanya menyerang anak-anak sekolah, tapi bully juga menyerang kaum emak-emak soal mendidik anak. Etapi yang lebih membuat saya ‘mak grek’, adalah ucapan bapak kepsek soal bully sesama guru. Adakah? Kenapa bisa?



Sekelumit ceritaku tentang bully di masa lalu

Saya sendiri punya cerita tentang bully. Sewaktu SD pernah di bully karena saya bukan anak orang kaya. Saya inget benar, saya di bully oleh teman saya yang terlahir dari keluarga PNS dan suka semena-mena sama temannya. Dan yang tidak pernah bisa saya lupakan, guru kelas yang seharusnya penengah justeru malah memihaknya. Jujur, saya sempat kecewa dengan profesi guru lantaran guru SD saya dulu yang suka membeda-bedakan muridnya lantaran profesi keluarganya. Kalau mengingat hal itu, terkadang saya sampai menitikkan air mata.


Sementara cerita saya soal bully semasa SMP itu terlihat banget antara di kaya dan si miskin. Yups, anak-anak orang kaya selalu seenaknya menyuruh teman-temannya yang bukan dari keluarga berada. Mereka juga membeda-bedakan soal bergaul.


Bully sewaktu SMP yang sampai sekarang saya ingat adalah sewaktu saya duduk di kelas 3 SMP. Saya dekat dalam artian sahabat dengan seorang cowok yang digandrungi bahkan menjadi rebutan oleh teman perempuan saya. Kala itu, saya adalah penyuka puisi, saya punya puisi dan teman-teman yang jahil dengan sengaja menempel puisi saya di mading. Mereka membuat gosip saya suka sama sahabat cowok saya itu. Syapun di bully oleh cewek-cewek yang menggandrunginya hingga saya enggak punya teman. Saya selalu ingat kejadian itu dan rasanya kok masih nyesek sampai sekarang.


Sementara masa SMA dan kuliah, Alhamdulillah hidup saya tanpa bully. Saya bahkan menemukan sahabat dan teman-teman yang tanpa membeda-bedakan dalam pergaulan.


Cerita bully ketika aku menjadi ibu

Ada lagi cerita bully yang sempat saya rasakan, yaitu tatkala saya menjadi seorang ibu. Bully yang saya dapatkan tak hanya dari orang-orang dari dunia nyata saja, melainkan dari dunia maya alias sosial media.


Perkembangan sosial media yang semakin mempercepat dalam memperoleh informasi, ternyata ada sisi negatifnya. Banyak sekali orang yang begitu mudahnya menilai orang lain, lalu nyinyir dan membully tanpa tahu kebenarannya.


Saya merasakan betul, bagaimana nsakitnya dibully lantaran saya melahirkan anak saya secara sc. Yups, dokter sudah memvonis bahwa panggul saya sempit. Etapi beberapa teman di dunia maya selalu bilang, tahu dari mana panggulnya sempit? Hallah alasan saja dan bla...bla... sampai pada titik yang begitu menyakitkan, ibu yang lahiran normal lebih sayang pada anaknya dari ibu yang lahiran sc. Oh My God... rasanya saya ingin marah sekaligus menangis.


Tak tahukan mereka, melahirkan secara sc itu juga beresiko seperti ibu yang melahirkan secara normal. Melahirkan secara sc awalnya memang tidak sakit, tapi untuk penyembuhannya butuh waktu lama dan sakitnya bisa terasa sampai 6 tahun.


Belum lagi soal bully lantaran saya memberikan anak saya ASI campur sufor. Ada yang bilang saya enggak niat menyusui, dan yang lebih menusuk hati itu tatkala ada yang bilang kalau ngasih anaknya sufor berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anaknya.


Duh, perkataan itu sampai membuat saya geram. Padahal kan saya sampai ngasih sufor ke Juna itu ada alasan dan sudah konsultasi ke dokter yang menangani saya sedari hamil.




Belum lagi nyinyiran atau bully-an lainnya soal MPASI Instan atau MPASI Homemade. Ibu bekerja atau full time di rumah. Dan bla.. bla... Jujur saja saya prihatin, kenapa sekarang ini sesama ibu begitu mudahnya saling membully dan nyinyir? Kenapa tidak bersatu saling mendengarkan keluh kesah dan saling memberi saran tanpa harus menggurui? Toh ibu yang baik itu bukanlah ibu yang suka nyinyir dan membully sesama ibu, tapi bagi saya ibu yang baik adalah seorang ibu yang berfikir dan menentukan sikap terbaik demi masa depannya dan anak-anaknya.




Pembelajaran tentang bully

Bully ada karena seseorang merasa kuat atau hebat. Seandainya saja kita semua menyadari bahwa kita semua hebat dengan kekurangan dan kelebihannya, mungkin tak akan pernah ada kata bully.


Untukmu para murid-muridku dan juga siswa-siswi lainnya, STOP membully sesama teman. Bully bukan budaya ataupun tradisi, bully hanya penyimpangan yang menjadikan kita manusia sombong.


Yuk, belajar menghargai teman kita tanpa membedakan status sosialnya.


Dan untukmu para ibu-ibu, STOP membully sesama ibu. Kita adalah perempuan-perempuan yang dipercaya Tuhan untuk merawat titipanNya, tak seharusnya kita merasa hebat, terbaik dan merendahkan sesama ibu. Kita semua adalah perempuan hebat. Lebih baik kita bersatu menjadi ibu yang terbaik untuk buah hati kita.


Bully Sesama Guru

Sedikit ungkapan soal bully sesama guru seperti yang disinggung sama pak kepsek. Menurut saya, di tempat saya bekerja itu tidak ada guru yang dibully. Kalaupun ada guru yang kebetulan menjadi tranding topic pembicaraan rekan-rekan, itu terjadi karena sikap si guru sendiri. Sudahkah Beliau bertoleransi sesama rekan-rekan? Sudahkah bekerja sesuai profesionalisme dan loyalitas pada sekolah.


So, kalau pak kepsek kemarin sempat menyinggung soal bully sesama guru, sebenarnya sama sekali enggak ada bully. Karena bagi saya, bully sama ngegosipin itu berbeda. Bully ada karena seseorang atau sekelompok merasa hebat lantas memperlakukan orang lain atau kelompok lainnya di luar kemanusiaan entah dalam bentuk kata maupun perbuatan.



Yah, itu hanya sekelumit cerita saya soal bully dan harapan saya, semoga ke depannya tidak ada lagi yang namanya bully membully. 

9 Responses to "BULLY, BUDAYA ATAU TRADISI?"

  1. Hehehe.... seru banget cerita bully nya.

    Bully ala emak2 kadang suka bikin baper.
    Tapi kalo saya pribadi sih prinsipnya.... gak usah ngukur baju pake ukuran orang lain.
    Setiap mom itu punya alasan dan kepentingan masing2, yang gak bisa diukur pake kacamata sendiri.


    Semangaaat maaak...

    ReplyDelete
  2. Hehehe.... seru banget cerita bully nya.

    Bully ala emak2 kadang suka bikin baper.
    Tapi kalo saya pribadi sih prinsipnya.... gak usah ngukur baju pake ukuran orang lain.
    Setiap mom itu punya alasan dan kepentingan masing2, yang gak bisa diukur pake kacamata sendiri.


    Semangaaat maaak...

    ReplyDelete
  3. tradisi yang jadi budaya. menurut saya sih mbak.

    memang melek bully harus selalu didengungkan agar tidak terjadi bullying yang mentradisi karena dibudayakan.

    ReplyDelete
  4. kesimpulannya bully bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja...

    yang susah itu bagamana cara menyikapinya :)

    salam

    ReplyDelete
  5. Bully sesama emak2 sekarang lagi ngetren. Eh, aksi #nobullying juga ngetren kok ��

    ReplyDelete
  6. tergantung orang nya mbaa... ada dari kecil SD suka ngebully dan musuhan...

    semangat mba.... cuekin aja orng yang ngatain..
    toh..kita lebih tahu dari mereka...

    ReplyDelete
  7. Heran ya dengan mereka yang suka ngebully. Yang lebih heran lagi kalau yang ngebully adalah para emak yang merasa paling benar sendiri.

    Itu kok ya lahir sc saja sampai dikomentarin gitu sih? Sok merasa paling tahu sendiri. Ah, semoga kita bisa lebih bijaksana saja ya mbak. :)

    ReplyDelete
  8. Bully oh bully, moga2 kita gak ikutan suka membully ya mbak...

    ReplyDelete
  9. Waktu saya SD dulu alhamdulillah gak ada yang namanya bully si miskin dan si kaya, sampai dewasa pun begitu. Namun bully yang terasa paling dalam adalah bully karena tubuh saya kecil, gak cuma saat SD tapi bully tersebut lanjut sampai sekarang saat saya dewasa. Akhir akhir ini saya malah mikir, "Jangan ngomong anti-bullying kalau masih ketawa liat orang kepleset, jatuh atau tak sengaja terbentur". Buat saya salah satu mental bully melekat sejak kecil ya mulai dari bibit itu, ditambah merasa lucu ketika melihat tontonan Tom & Jerry. Yang saya tuangkan dalam tulisan blog berjudul Mental Tom & Jerry.

    ReplyDelete